5 June 2009

Cerita Sahabat Tentang Sahabatnya

Seminggu terakhir ini dijejali dengan berbagai berita. Mulai Ambalat, Manohara sampai Prita. Silih berganti menghiasi layar televisi membuatku terpana menyaksikannya. Tak kuduga seorang sahabat datang berkunjung yang tidak seperti biasanya. Dia bercerita panjang lebar tentang masalahnya. Dan ini juga terkait dengan tulisan saya tempo hari.

Sahabat saya adalah seorang musisi senior. Dia sudah puluhan tahun berkecimpung didunia musik mendampingi seorang penyanyi besar yang perlahan namun pasti telah menjelma menjadi seorang superstar yang sangat dikagumi. Superstar yang punya jutaan fans, superstar yang sangat disegani baik oleh rakyat biasa maupun pemerintah, superstar yang dipuja-puja dan dielu-elukan. Sahabat saya secara tidak langsung ikut membuat besar nama superstar itu.

Sahabat saya mengeluh tentang nasibnya. Dia menjalani hidup bersama dengan proses karir superstar itu dari nol, dari jalanan kotor dan berdebu. Kata dia dahulu mengarungi hidup begitu bebas tanpa terikat aturan. Hasil yang didapat selalu dibagi sesuai porsinya. Namun belakangan sejak 5 tahun terakhir setelah dunia profesionalitas dihembuskan dalam lingkup kerja sang superstar, maka sahabat saya itu tak ubahnya menjadi seperti pegawai saja.

Dia hanya menjadi orang gajian yang harus menurut perintah majikan. Penampilannya diatas panggung selalu diatur. Dahulu dia bebas mau pakai kaus oblong atau bersandal jepit kalau manggung. Sekarang harus bersepatu dan berkemeja rapi. Yang paling dia sesalkan adalah perintah untuk tidak menjadi orang yang dominan diatas panggung selain sang penyanyi. Jadi para musisi harus tenang dan tidak boleh melakukan improvisasi musik atau gaya diatas panggung. Yang boleh jingkrak-jingkrak hanyalah penyanyinya yang seorang superstar kondang dinegeri ini. Hal ini semakin memuncak dalam konser kemarin.

Lalu pundi-pundi yang diterima hanyalah rutinitas bulanan. Dia hanya digaji bulanan, peduli mau manggung ratusan kali atau hanya sekali, penghasilannya sama. Kalau dulu pembagiannya diatur berdasarkan jumlah perform di publik. Jadi dahulu sahabat saya juga giat mencari job manggung. Sekarang.. semua sudah diatur oleh manajemen. Dia hanya cukup latihan dan latihan saja.

Kondisi ekonominya menurun drastis sejak semua diatur dengan gaya profesional. Sang superstar bisa hidup di rumah mewah ribuan meter persegi dan berlenggang dengan mobil mewah berharga milyaran, sedangkan sahabat saya hanya mampu mengontrak rumah dan membeli sebuah motor untuk transportasi. Ooh.. sungguh sudah berubah. Dunia musik menjadi industri besar, bukan sebagai ladang ekspresi seni yang tidak terikat oleh uang. Sahabat saya serba salah menyikapi ini semua. Pernah dia protes, namun ditanggapi biasa saja. Pernah dia berniat akan keluar dari lingkungan kerja itu, namun pertimbangan rasa balas budi mengurungkan niatnya. Dan satu-satunya bentuk protes yang dia lakukan adalah membuat album sendiri dengan biaya hutang sana dan sini. Namun sayang, album musik dia kurang laku.

Hampir empat jam sahabat saya itu berkeluh kesah yang tak terasa sudah menunjukkan waktu subuh. Dia lalu pamit pulang dengan motornya sambil menyandang gitar akustik di punggungnya. Sebelum pulang dia berkata, "Sang superstar sekarang kemakan lirik lagunya dahulu... dia kemakan omongannya sendiri...". Sabarlah sahabat, mbah juga berharap superstar itu cepat sadar dan kembali seperti indahnya masa perjuangan hidup bersamamu dahulu, kita semua sudah banyak mengingatkan dia. Dan hati-hati ngepot dijalan...

Comments :

2 komentar to “Cerita Sahabat Tentang Sahabatnya”

Pertamaxxxx Wah hanya doa yang dapat kita berikan untuk sahabat Mbah.. semoga sang superstar segera sadar akan kesalahannya.. :)

Ruang Kita said...
on 

amiiiiiiin... semoga

Mbah Ngepot said...
on 

Post a Comment