16 June 2009

Memberi Itu Terangkan Hati

Mungkin kisah nyata ini bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Suatu hari di tahun 90-an, pintu rumah ibu itu diketuk seorang lelaki setengah baya. Tak lama kemudian ibu itu membukakan pintu. "Selamat siang Bu...", sapa sang tamu. "Siang, Anda siapa?", tanya sang ibu. "Ibu tidak mengenal saya. Namun saya adalah kawan dari Pak Jono, ibu pasti mengenalnya. Saya disarankan oleh pak Jono untuk menemui ibu...", begitu jawabnya sambil menyebutkan namanya. "Baiklah mas.. ada perlu apa ya?", tanya ibu tersebut.

"Begini bu, saya dua hari yang lalu baru keluar dari penjara..."

Mendengar kata penjara membuat ibu itu deg-deg an dan penuh banyak pertanyaan dalam hatinya.

"Saya baru saja dibebaskan karena masa tahanan saya sudah habis. 15 tahun saya dipenjara karena tidak sengaja membunuh orang dalam sebuah perkelahian", lanjut lelaki tadi.

"Saat ini saya tidak memiliki uang sepeserpun. Maksud kedatangan saya adalah memohon bantuan ibu untuk memberi saya uang sebagai ongkos pulang. Karena saya ingin sekali pulang ke kampung halaman saya di Jawa Barat. Saya selama belasan tahun tidak pernah bertemu istri dan anak-anak saya... saya rindu dengan mereka, Bu..."

Ibu tadi semakin takut setelah mendengar kalau tamunya adalah mantan pembunuh. Apalagi siang hari itu hanya dia sendiri dirumah, suaminya masih bekerja, dan anaknya sedang pergi kursus. Dalam kebimbangan dia berusaha untuk tenang.

"Baiklah mas, tunggu sebentar ya disini..", dia bergegas masuk kedalam rumah sembari menutup pintu depan.

Segera dia menelepon pak Jono untuk konfirmasi mengenai tamu ini yang katanya mengenalnya. Namun dia tidak bisa menghubungi sebab pak Jono sedang keluar kota. Jaman itu handphone belum populer.

Ibu tadi bingung harus bagaimana. Dibukanya dompet dan dilihat hanya ada dua lembar uang 10 ribu rupiah. Dan dia berniat memberi 10 ribu kepada lelaki tersebut. Dia bergegas keluar dan ingin cepat-cepat memberi uang itu agar si tamu segera pulang.

"Ini mas, saya hanya bisa kasih seadanya..."

"Terima kasih Bu, namun saya mohon dengan sangat, kalau Ibu ada uang lebih saya sangat membutuhkan. Saya perlu 20 ribu Bu. Sebab itulah ongkos yang saya perlukan untuk sampai kerumah....", pinta sang tamu.

Entah karena takut atau apa, akhirnya ibu tadi menyerahkan juga sisa uang 10 ribu kepada lelaki itu. Yang penting cepat pulang dan jangan terlalu lama disini pikirnya.

"Terimakasih untuk kebaikan ibu. Saya tidak akan melupakan semua ini. Suatu saat nanti uang ini akan saya kembalikan. Saya berjanji...", kata lelaki itu sambil berpamitan pulang.

Haaahh... lega sekali perasaan ibu tadi setelah tamu tak diundang itu pergi. Setelah itu malam harinya dia menelepon pak Jono untuk menanyakan perihal tamu tersebut. Betapa kagetnya dia, ternyata pak Jono sama sekali tidak mengenalnya. Ya sudah, si ibu merasa ditipu, Namun dia mengikhlaskan uangnya diambil.. itung itung amal.

------------------

Waktu berjalan dan ibu tadi sudah beranjak tua. Tamu yang pernah membuat dirinya takut itu sudah dilupakan. Hingga ditahun 2009... terjadi peristiwa yang tidak diduga...

Sore hari dirumah ibu itu datang seorang tamu, dan kebetulan yang membukakan pintu adalah ibu itu sendiri.

"Selamat sore Bu. Masih ingat saya?", sapa tamu lelaki dengan rambut putih dan berkumis.

"Saya yang 18 tahun yang lalu pernah kemari meminjam uang kepada ibu...".

Haaahh.. ibu itu kaget.. 18 tahun yang lalu... seorang mantan narapinada yang pembunuh. Kini dia datang lagi.....

"Oooh, iya saya ingat... ada perlu apa pak?"

"Saya ingin mengembalikan uang yang pernah saya pinjam saat itu, dan saya memohon maaf kalau terlalu lama saya mengembalikannya.. namun saya sangat berterima kasih karena pemberian ibu bisa mengantarkan saya bertemu anak dan istri..", kata lelaki itu sambil menyerahkan sepucuk amplop berisi uang 20 ribu.

Si ibu bingung, mau menolak namun ada rasa takut kalau tidak menerima amplop itu.

"Lalu saya juga meminta maaf, saat itu saya bilang adalah kawan dari pak Jono. Sebenarnya saya tidak mengenal beliau, namun saya tahu kalau beliau adalah teman ibu. Maka agar ibu yakin, saya mengaku sebagai kawan beliau. Saat itu saya benar-benar kepepet membutuhkan ongkos pulang.....", lanjutnya.

"Dan sebagai permintaan maaf, saya serahkan lukisan ini untuk ibu. Ini adalah lukisan saya sendiri... semoga berguna..."

Si ibu menanggapi dengan biasa saja dan tidak ada respect kepada lelaki yang pernah membohonginya dahulu. Sambil menyerahkan lukisan yang telah dibingkai, lelaki itu berpamitan pulang.

Ada ada saja pikir si ibu. Ya sudahlah. Dia duduk diteras belakang sambil melihat lukisan pemberian tamunya tadi. Bergambar bunga mawar warna merah didalam pot dengan bingkai ukiran warna emas.

-----------------

Keesokan harinya dia membaca koran. Disitu ada berita pameran lukisan di hotel berbintang dari seorang pelukis terkenal. Dilihat foto pelukisnya... lho kok wajahnya mirip dengan tamu saya kemarin...... Dibaca namanya juga sama...

Karena penasaran, lalu sang ibu mendatangi pameran tersebut sambil membawa lukisan pemberian tamunya kemarin. Kata penjaga pameran, lukisan yang dibawa sang ibu tadi adalah benar lukisan dari pelukis ternama ini, malah itu adalah salah satu lukisan pertama yang dibuatnya.

"Pelukis ini yang memberikan langsung pada saya kemarin..", si ibu menjelaskan.

"Tidak mungkin bu, pelukis ini telah meninggal 10 tahun yang lalu. Ibu beruntung masih memiliki salah satu karya masterpiece darinya..", kata penjaga pameran yang ternyata masih kerabat si pelukis.

Haaaah... si ibu terdiam mematung ditengah arena pameran itu.. Si ibu bingung...

"Kalau ibu bersedia, kami akan membelinya seharga 200 juta, karena ini lukisan langka..."

Si ibu makin terbelalak dan tidak bisa berkata-kata. Dia hanya kebingungan dengan pengalaman aneh yang terjadi ini. Lantas siapa yang bertamu kemarin, pikirnya. Lukisan itu disimpan kembali dan tidak dijual. Meskipun dalam waktu satu bulan datang berbagai tawaran untuk membeli lukisan itu, bahkan penawaran terakhir adalah 300 juta rupiah.

Selanjutnya apakah lukisan itu masih disimpan atau dijual, itu bukan urusan Mbah..

--------------

Kisah ini adalah pelajaran untuk kita semua. Jangan pernah menolak permintaan orang. Karena kita tidak tahu seberapa besar kebutuhan orang itu dan seberapa besar harapan orang itu pada kemurahan hati kita. Dan sekecil apapun pemberian kita, asalkan dengan penuh keikhlasan, Allah swt pasti akan membalasnya dengan hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Pembalasan itu bisa didunia maupun di akhirat kelak.

Lagipula, memberi tidak akan membuat kita jatuh miskin.. malah bisa jadi kita akan menjadi kaya raya dalam hal materi seperti kisah ibu tadi. Namun kaya raya bukan hanya materi, namun bisa membuat kaya raya hati kita....

***Ini adalah kisah nyata yang terjadi, dan Mbah adalah saksi hidup. Nama sengaja saya samarkan. Mau percaya atau tidak itu terserah Anda.

Comments :

6 komentar to “Memberi Itu Terangkan Hati”

Wow, beneran?!

Ramdhan said...
on 

menyentuh mbah ceritanya..... sekecil apapun kebaikan yang kita tanam pasti akan ada balasan.

kucrit said...
on 

makasih... banyak pelajaran berharga dari kisah ini... jangan PELIT..!

Mbah Ngepot said...
on 

Siapa menebar benih nanti akan menuai hasilnya

Peri Kecil said...
on 

Saya benar2 merinding membaca kisah ini. Saya tahu bhw tak mudah utk bisa melakukan kebaikan pada org yg jelas2 mengaku sbg narapidana, apalagi utk kasus pembunuhan. Reaksi saya pasti spt ibu itu, cepat2 memberi uang seadanya sambil bersyukur saat org itu sdh pergi.

Kita jangan pernah berhenti utk berbuat kebaikan, meski itu hanya hal2 sepele dan akan segera kita lupakan. Saya sering mengalami pas posting kisah inspiratif di blog. Pdhal itu cuma terjemahan dari kisah dlm bhs Inggris, dan pikir saya, lumayan utk diposting selagi sy tidak punya ide lain. Namun nyatanya, posting yg saya tulis asal2an saja ternyata dapat menyentuh hati seseorg yg kebetulan mengalami kesulitan yg sama sperti pada kisah dalam posting itu.

Kita tak pernah tahu, efek yg diakibatkan sebuah perbuatan, maka teruslah berbuat kebaikan, karena semuanya tak pernah tanpa arti. Kalaupun tak berarti bagi manusia, setidaknya sangat berarti di hadapan Sang Pencipta!

Fanda said...
on 

Dibalik benar atau bohong cerita di atas. Yang jelas memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan itu memang MENERANGKAN HATI. Perbanyak memberi maka kita pun akan banyak menerima...

amo abdullah said...
on 

Post a Comment